Yang membaca sungguh-sungguh, janganlah hanya dilihat. Dengarkan lalu resapkan petuah lalu ikuti (Sewaka Darma) Bila ingin tahu tentang telaga, bertanyalah kepada angsa. Bila ingin tahu tentang hutan, bertanyalah kepada gajah. Bila ingin tahu tentang laut, bertanyalah kepada ikan. Bila ingin tahu tentang bunga, bertanyalah kepada kumbang (Sanghyang Siksakanda ng Karesian). Bila ingin tahu tentang kehebatan KARUHUN kunjungi terus www.arkeologisunda.blogspot.com

17 Maret, 2009

Nganjang ka Sumedang (2)



PERANAN GUNUNG BAGI MASYARAKAT PADA MASA KLASIK AKHIR DI KAWASAN SUMEDANG



Nanang Saptono




Sari

Konsep kosmogoni dalam ajaran Brahma dan Buddha menyatakan bahwa alam semesta berpusat pada Mahameru. Implementasi konsep ini terdapat pada pengagungan terhadap gunung. Masyarakat masa klasik akhir di Sumedang memandang Gunung Tampomas sebagai gunung suci. Pemukiman masyarakat berada di sisi utara hingga timur Gunung Tampomas. Pada masa Islam masuk di Sumedang, gunung atau bukit di sekitar lokasi pemukiman disamakan dengan gunung suci.


Abstract

Cosmogony Concept in Brahma and Buddhism are expresses that centre of the universe are the
Mahameru. The implementation of this concept are exalting of the mountain. The Sumedang society in the late classical period look into Tampomas as a holy mountain. The settlement people reside in north side till east of the Mount Tampomas. At a period of Islam coming in Sumedang, hill or mount around settlement location be equalled with a holy mountain.


Kata Kunci: Mahameru, gunung suci, kosmogoni, pemukiman



Pendahuluan
Gunung merupakan unsur alam yang sangat penting dalam konsep kehidupan manusia. Karena begitu sangat pentingnya gunung bagi kehidupan, hingga Betara Guru perlu memerintahkan Yaksa untuk memindahkan Gunung Mahameru di Jambudwipa ke Pulau Jawa. Pemindahan ini dilakukan karena Pulau Jawa diombang-ambingkan ombak samudera. Setelah gunung itu berhasil dipindahkan, Parameswara memerintahkan seluruh dewa untuk memujanya (Pigeaud, 1924: 129). Peranan gunung dalam simbolisme kehidupan terlihat dalam landasan kosmogoni kerajaan-kerajaan kuna di Asia Tenggara. Robert von Heine Geldern (1982: 1–5) dalam menelaah konsepsi ini mendapatkan gambaran bahwa kerajaan kuna di Asia Tenggara pada umumnya mempunyai kepercayaan akan adanya keserasian antara dunia manusia (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos). Konsep kosmogoni ini berdasar pada doktrin agama Brahma dan Buddha. Menurut doktrin Brahma, jagad merupakan benua berbentuk lingkaran yang disebut Jambudwipa. Di tengah Jambudwipa berdiri kokoh Gunung Meru. Jambudwipa dikelilingi tujuh samudera dan tujuh benua lainnya. Di luar samudera terakhir terdapat jajaran pegunungan.

Menurut doktrin Buddha, Gunung Meru sebagai pusat jagad raya, dikelilingi tujuh barisan pegunungan masing-masing dipisahkan tujuh samudera. Di luar jajaran pegunungan yang paling luar terletak lautan. Di lautan ini terdapat empat benua yang berada pada empat penjuru mata angin. Benua yang berada di sebelah selatan Gunung Meru adalah Jambudwipa tempat tinggal manusia. Konsep kosmogoni antara doktrin Brahma dan Buddha terdapat sedikit perbedaan, namun pada intinya sama yaitu bahwa alam semesta berpusat pada meru. Pada kehidupan kenegaraan, konsep kosmogoni disimbolkan pada jumlah negara bawahan dan struktur birokrasi (Sumadio, 1990: 189–190). Dengan mengikuti pola sesuai dengan konsep kosmogoni, kerajaan dipandang sebagai implementasi jagad raya. Kota sebagai unsur kerajaan (negara) strukturnya juga menganut konsep kosmogoni.

Struktur kota yang berpusat pada gunung tampaknya merupakan model universal. Banyak kota menyimbolkan sebagai tengah-tengah dunia, pusar dunia, poros dunia, dan seterusnya. Sebagai contoh, kota-kota Romawi merupakan gambaran duniawi dari suatu citra surgawi di mana menggabungkan poros dunia dengan pembagian atas dunia menjadi empat bagian didasarkan atas Roma. Kota-kota Cina zaman kuna dibangun dengan tata ruang, kanal dan jembatan, tembok dan benteng, jaringan jalan, letak pusat dan daerah, serta keadaan lingkungan kota menggambarkan simbol kosmologi. Kota Khmer di Kamboja seperti Angkor Thom mengikuti kosmologi Hindu. Bagian pusat kota merupakan bukit suci. Benteng dan parit pertahanan meniru alam semesta. Kota-kota suku Yoruba di Afrika, kota bangsa Aztec seperti Tenochtitlan dan kota bangsa Maya seperti Cozumel juga mencerminkan simbol kosmologi (Rapoport, 1985: 28–31).

Di Indonesia pada zaman Mataram kuna, struktur ketatanegaraan yang tersirat pada prasasti Canggal mengandung petunjuk adanya konsep kosmologi. Raja Sanjaya dipersamakan sebagaimana Raghu yang telah menaklukkan raja-raja yang mengelilinginya. Kebesaran Raja Sanjaya dilukiskan bagaikan meru yang menjulang tinggi, kaki-kakinya diletakkan jauh di atas kepala raja-raja yang lain. Selama ia memerintah, dunia berikatpinggangkan samudera dan berdada gunung-gunung (Sumadio, 1990: 99).

Konsep tentang meru sebagai pusat kosmos dipakai terus hingga masa Mataram Islam. Negara berpusat pada inti kekuatan yang disusun sebagaimana lingkaran konsentris. Ibukota kerajaan yang disebut kuthagara merupakan tempat kedudukan keraton. Di sekelilingnya terdapat wilayah yang disebut negara agung, selanjutnya mancanagara dan wilayah pasisir (Behrend, 1982: 170–172). Wilayah kuthagara sebagai pusat wilayah kerajaan, disusun mengikuti konsep mikrokosmos. Keraton dibangun menurut orientasi kosmis dengan sumbu pada Gunung Merapi dan laut selatan.

Konsep tentang meru tidak sebatas diimplementasikan dalam simbol-simbol kenegaraan. Dalam pertunjukan wayang kulit, replika gunung yang disebut gunungan atau kekayon, selalu digunakan untuk mengawali dan mengakhiri secara menyeluruh atau sebagian adegan (Behrend, 1982: 168). Lakon dalam wayang merupakan gambaran perjalanan hidup manusia. Karena begitu pentingnya arti gunung bagi kehidupan manusia maka seakan-akan perjalanan hidup manusia diawali dan diakhiri oleh gunung. Prasasti Pucangan (Sumadio, 1990: 175–177) menyiratkan bagaimana Dharmmawangsa Airlangga mengakhiri penderitaan akibat serangan Haji Wurawari dan memulai menata kehidupan baru kerajaan, di wanagiri yaitu hutan di lereng gunung.

Peristiwa hampir serupa juga terjadi pada masa akhir Kerajaan Pajajaran. Pada sekitar tahun 1575, Sumedanglarang yang merupakan kerajaan kecil bawahan Kerajaan Pajajaran berusaha melepaskan diri. Peristiwa itu sering disebut dengan istilah Burak Pajajaran (Jubaedah, 2005: 18–19). Menurut Nina H. Lubis (2000: 73) Kerajaan Sumedanglarang menjadi kerajaan berdaulat karena runtuhnya Kerajaan Sunda Pajajaran yang terjadi pada tahun 1579. Catatan Lucas Partanda Koestoro (1987: 36), berdasarkan cerita rakyat menyebutkan ketika Pakwan Pajajaran diserang pasukan Banten, Prabu Siliwangi mendatangi Sumedanglarang. Kedatangannya diikuti empat orang patih di antaranya adalah Sayang Hawu atau dikenal juga dengan sebutan Embah Jayaperkosa. Di Sumedanglarang, Sayang Hawu diperintahkan menyerahkan pusaka keraton berupa mahkota emas kepada Prabu Geusan Ulun. Prabu Siliwangi kemudian menuju puncak Gunung Tampomas menjalankan semedi. Di sanalah beliau ngahiang sesuai dengan apa yang diajarkan agama yang dianutnya. Berdasarkan peristiwa ini tergambar bahwa konsep kosmogoni juga menjadi landasan bagi kehidupan di Sumedang. Permasalahan yang muncul bagaimanakah peran Gunung Tampomas dalam struktur permukiman di kawasan Sumedang dalam kaitannya dengan konsep kosmogoni tersebut.


Sumedang Dalam Historiografi Tradisional
Secara umum wilayah Sumedang merupakan dataran tinggi beriklim tropis dengan curah hujan tinggi. Luas wilayah Sumedang 1.421,82 km2. Di dalam Babad Sumedang pupuh Sinom bait ke-5 terdapat uraian mengenai kondisi alam. Disebutkan bahwa Sumedang tempo dulu beribukota di Kutamaya. Di sebelah selatan terdapat Gunung Kecapi. Di sebelah utara terdapat Gunung Palasari. Di pinggir kota ada sungai. Kawasan sebelah selatan merupakan daerah pedataran tinggi. Dari sana dapat melihat daerah sekelilingnya. Gambaran ini merupakan kondisi kota Sumedang (Kutamaya) pada masa Pangeran Geusan Ulun yaitu sekitar awal abad ke-16 (Jubaedah, 2005: 15–16).

Pada masa sebelumnya di Sumedang dikenal adanya Kerajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedanglarang (Lubis, 2000: 71 – 78). Lokasi pusat kerajaan ini sekarang berada di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja. Menurut historiografi tradisional, kerajaan ini didirikan oleh Batara Tuntang Buana. Sebelum mendirikan kerajaan, Batara Tuntang Buana memperdalam ilmu kasumedangan*) di Gunung Mandalasakti. Pendalaman ilmu yang dilakukan Batara Tuntang Buana mengakibatkan Gunung Mandalasakti terbelah. Berkat kesaktian Batara Tuntang Buana, gunung yang terbelah tersebut dibalut (disimpay) sehingga tidak hancur. Gunung Mandalasakti yang terletak di Kecamatan Situraja kemudian dikenal dengan nama Gunung Simpay. Setelah selesai mendalami ilmu kasumedangan, Batara Tuntang Buana mendirikan Kerajaan Sumedanglarang. Ketika naik tahta kerajaan Batara Tuntang Buana mendapat nama Prabu Taji Malela. Pendirian kerajaan ini berlangsung pada sekitar tahun 900.

Prabu Taji Malela digantikan oleh anaknya yang bernama Prabu Gajah Agung. Pada masa ini pusat kerajaan di Ciguling. Prabu Gajah Agung kemudian digantikan oleh Sunan Pagulingan. Ketika pemerintahan berada di bawah Sunan Pagulingan, terjadi perkawinan politis antara Ratu Rajamantri, puteri Sunan Pagulingan, dengan Prabu Siliwangi, Raja Sunda Pajajaran. Sejak perkawinan ini Kerajaan Sumedanglarang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Sunan Pagulingan digantikan oleh Ratu Rajamantri selanjutnya digantikan oleh Sunan Guling. Pada masa pemerintahan Pangeran Pamelekaran, pusat kerajaan dipindahkan ke Kutamaya.

Ketika Sumedanglarang di bawah kepemimpinan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Sunda Pajajaran mengalami masa surut. Prabu Geusan Ulun mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Usaha ini mendapat tekanan dari Banten yang sebelumnya sudah berhasil memerangi Kerajaan Sunda Pajajaran. Menghadapi tekanan tersebut, Sumedanglarang mencari dukungan ke Cirebon. Pada masa ini pusat kerajaan dipindahkan dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur yang berada pada kawasan perbukitan.

Pada tahun 1610 Geusan Ulun wafat. Kepemimpinan kerajaan Sumedanglarang kemudian digantikan oleh Aria Suriadiwangsa I. Suksesi ini sepertinya tidak berjalan lancar, karena putra Geusan Ulun lainnya yang bernama Rangga Gede juga diangkat menjadi penguasa Sumedanglarang. Perpindahan pusat kerajaan terjadi lagi. Aria Suriadiwangsa memindahkan dari Dayeuh Luhur ke Tegalkalong, sedangkan Rangga Gede memindahkan ke Canukur.


Beberapa Tinggalan Arkeologis
Berdasarkan historiografi tradisional, tercatat beberapa pemukiman yang juga sebagai pusat kerajaan Sumedanglarang yaitu Tembong Agung, Ciguling, Kutamaya, Dayeuh Luhur, Tegalkalong, dan Canukur. Jejak-jejak arkeologis di beberapa lokasi yang disebutkan sumber historiografi sudah sulit diketahui. Tinggalan arkeologis di kawasan Sumedang kebanyakan berupa makam-makam tokoh seperti makam Prabu Taji Malela di Gunung Lingga, makam Prabu Gajah Agung di Cicanting, Darmaraja, makam Sunan Pagulingan dan Sunan Guling di Ciguling, serta makam Sunan Tuakan di Heubeul Isuk, Pasanggrahan.

Di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Darmaraja yang disebut-sebut sebagai lokasi Kerajaan Tembong Agung, sangat sedikit mengandung fakta arkeologis indikator pemukiman. Lokasi ini berada di sebelah barat aliran Sungai Cimanuk. Jejak pemukiman yang ada berupa sebaran fragmen keramik asing dan lokal yang berada pada kebun penduduk di perkampungan. Keramik yang pernah ditemukan merupakan keramik Cina masa dinasti Qing.


Makam keramat dan jejak tatanan batu
membentuk bangunan berundak di Pasir Limus


Di sebelah utara perkampungan terdapat bukit kecil yang disebut Pasir Limus. Pada puncak bukit terdapat makam keramat. Tokoh utama yang dimakamkan adalah Eyang Jamanggala. Makam berpagar bambu. Jirat makam berupa tatanan batu berdenah empat persegi panjang. Nisan berupa batu alam tanpa dimodifikasi. Di sebelah tenggara makam utama terdapat makam Eyang Istri Ratna Komala Inten. Jirat makam juga berupa tatanan batu alam berdenah empat persegi panjang. Nisan dari batu alam. Di sebelah timur kedua makam ini terdapat monolit. Di sebelah barat daya makam Eyang Jamanggala terdapat beberapa makam kuna yang ditandai dengan nisan batu alam. Di sebelah timur kelompok makam ini terdapat monolit. Pada bagian komplek makam ini terdapat jejak tatanan batu membentuk bangunan berundak.

Di sebelah timur kelompok makam ini berjarak sekitar 25 m terdapat makam keramat yang ditandai dengan kumpulan batu. Makam ini berada di bawah pohon beringin. Tokoh yang dimakamkan adalah Eyang Jayaraksa atau dikenal juga dengan sebutan Eyang Nanti. Makam ini disebut juga petilasan Tilem.

Di sebelah timur perkampungan juga terdapat komplek makam yang dikeramatkan. Komplek makam dikelilingi parit kecil. Jalan masuk berada di sisi selatan. Tokoh yang dimakamkan adalah Eyang Marapati dan Eyang Martapati. Makam Eyang Marapati berada di bagian barat. Kondisi makam berpagar bambu. Jirat makam berupa tatanan batu berdenah empat persegi panjang. Pada bagian selatan, tatanan batu tersebut agak menonjol. Jirat dilengkapi nisan dari batu alam. Makam Eyang Martapati berada di sebelah timur makam Eyang Marapati berjarak sekitar 20 m. Kondisi makam juga berpagar bambu. Jirat berupa tatanan batu berdenah empat persegi panjang. Bila dibandingkan dengan jirat makam Eyang Marapati, volume batu jirat makam Eyang Martapati lebih sedikit. Nisan makam Eyang Martapati juga berupa batu alam.

Di sepanjang aliran Sungai Cimanuk masih banyak lagi situs yang berupa makam kuna yang dikeramatkan. Kebanyakan situs tersebut dikaitkan dengan Kerajaan Sumedanglarang atau masa-masa sesudahnya. Pada umumnya situs berada pada puncak bukit. Situs-situs yang berasal dari masa yang lebih tua terdapat di Gunung Tampomas, Kecamatan Buah Dua dan di Desa Narimbang, Kecamatan Congeang. Di Gunung Tampomas terdapat dua objek situs arkeologi yaitu di Sanghiang Taraje dan Puncak Manik sedangkan di Narimbang terdapat lokasi yang disebut Blok Candi.

Beberapa peninggalan arkeologis yang terdapat di kawasan Gunung Tampomas pernah beberapa kali diteliti. N.J. Krom pada tahun 1914 pernah mencatat adanya bangunan berundak dari batu-batu terdiri empat teras. Untuk mencapainya melalui sebuah tangga batu. Di puncak bangunan berundak terdapat patung Ganesha, batu dengan tanda bekas kaki dan enam benda kecil antara lain berbentuk genta dan satu lagi berbentuk landasan (Krom, 1915: 65).

Pada bulan Januari 1987, Lucas Partanda Koestoro dari Laboratorium Paleoekologi dan Radiometri, Bandung (sekarang Balai Arkeologi Bandung) mengadakan penelitian deskriptif terhadap peninggalan di Sanghiang Taraje. Uraian hasil penelitiannya menguraikan kondisi dan dimensi bangunan berundak. Beberapa objek penting yang dicatatnya adalah arca menhir dari batuan andesit di halaman pertama, batu tatapakan (umpak), batu ajeg (batu yang didirikan tegak), dan batu kasur yang terdapat di halaman ketiga (Koestoro, 1987: 38–39). Di sebelah tenggara Sanghiang Taraje terdapat situs Puncak Manik. Di Puncak Manik terdapat objek berupa arca Ganesha, arca binatang dan sebuah bentuk tumpeng.

Arca Ganesha yang terdapat di Puncak Manik dari bahan batuan andesitik. Ganesha digambarkan secara sederhana dalam posisi duduk, tangan kiri dilipat di depan dada, tangan kanan memegang ujung belalai. Arca binatang menggambarkan harimau dan monyet. Binatang tersebut digambarkan dalam posisi sedang berjongkok. Kaki belakang ditekuk dan kaki depan lurus (Yondri, 1988).

Pada lereng sebelah timur Gunung Tampomas terdapat lokasi yang disebut Blok Candi. Secara administratif lokasi tersebut merupakan wilayah Desa Narimbang, Kecamatan Congeang. Di lokasi ini terdapat struktur teras batu berorientasi utara – selatan. Panjang 6,40 m dengan ketebalan 40 cm. Menurut keterangan masyarakat setempat pada sekitar tahun 1998 telah ditemukan arca batu.


Fragmen arca yang ditemukan di Blok Candi,
lereng timur Gunung Tampomas



Arca ini sekarang disimpan Sdr. Ifan, warga Desa Narimbang. Arca terbuat dari bahan batuan tufa berwarna kemerahan. Kondisi arca sudah tidak lengkap, pada bagian kepala patah. Ukuran tinggi 45 cm, lebar 25 cm, dan tebal 15 cm. Penggambaran sangat sederhana. Kedua tangan digambarkan dalam sikap menyilang di dada. Tangan kiri berada di atas tangan kanan. Bagian perut hingga kaki tidak digambarkan. Tepat di atas persilangan dua tangan terdapat semacam ujung belalai yang menjulur ke arah kanan.


Gunung Dalam Kehidupan Masyarakat
Gunung bagi masyarakat Sunda pada zaman klasik menduduki tempat tersendiri pada sistem religinya. Pada zaman Kerajaan Galuh, Gunung Galunggung merupakan meru bagi kerajaan. Carita Parahyangan dan Amanat Galunggung sering menyebut gunung ini. Di gunung tersebut mungkin banyak terdapat kabuyutan atau gunung itu sendiri merupakan kabuyutan bagi Kerajaan Galuh. Galunggung merupakan gunung yang disucikan oleh masyarakat Galuh baik para elite penguasa maupun rakyat kebanyakan (Munandar, 2004: 107). Kerajaan Pakuan Pajajaran menganggap Gunung Gede sebagai gunung suci. Bujangga Manik menyebut bahwa Gunung Gede (bukit Ageung) merupakan kabuyutan bagi rakyat Pakuan (Munandar, 2004: 109).

Gunung dimaknai sebagai kabuyutan terlihat pada tindakan Prabu Siliwangi dalam peristiwa Burak Pajajaran. Tindakan ini mirip dengan apa yang dilakukan Dharmawangsa Airlangga menghadapi maha pralaya dari Haji Wurawari. Perbedaannya, Prabu Siliwangi yang lari ke Gunung Tampomas tidak dalam usaha konsolidasi untuk menegakkan kembali Kerajaan Sunda Pajajaran tetapi untuk menekuni ajaran agama yang dianutnya setelah kerajaannya menghadapi kehancuran. Sedang Dharmawangsa Airlangga menuju wanagiri dalam rangka menunggu saat yang tepat untuk menegakkan kembali kerajaannya. Hal penting yang perlu dicatat adalah peranan gunung sebagai tempat untuk mendapatkan pencerahan sebagaimana halnya kabuyutan. Prabu Siliwangi di Gunung Tampomas mencari pencerahan untuk memasuki alam kedewaan dan akhirnya ngahiang, sedangkan Dharmawangsa Airlangga mencari pencerahan untuk menyusun kekuatan. Gunung Tampomas sebagai gunung suci dijadikan tujuan akhir Prabu Siliwangi untuk menuju alam kedewaan.

Beberapa tinggalan arkeologis yang terdapat di Sanghiang Taraje dan Puncak Manik menunjukkan bahwa gunung itu merupakan gunung suci. Konsepsi tentang gunung suci muncul sejak masa prasejarah. Pada masa klasik konsep tentang gunung suci ditandai dengan bangunan suci yang berada di lereng gunung. Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, pada sekitar abad ke-15 juga dikenal sebagai gunung suci. Di lereng barat terdapat Candi Sukuh dan Candi Ceta. Kedua bangunan candi ini lebih menyerupai bangunan berundak. Selain kedua bangunan candi juga terdapat punden Cemoro Bulus dan Planggatan. Kedua bangunan ini berbentuk bangunan teras berundak yang lebih kecil dibandingkan dengan Candi Sukuh atau Ceta. Menurut Bernet Kempers (1959: 101) Candi Sukuh merupakan bangunan suci yang dijadikan sebagai sarana pembebasan arwah nenek moyang. Relief cerita Sudamala yang bertemakan tentang pembebasan menunjukkan bahwa pembangunan Candi Sukuh ada kaitannya dengan pembebasan. Dengan demikian, pendirian bangunan candi tersebut juga mengandung maksud penghormatan terhadap Gunung Lawu dalam rangka pembebasan jiwa. Gunung tersebut dianggap keramat sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur yang telah meninggal. Di Jawa Timur tinggalan arkeologi yang menunjukkan adanya hubungan antara bangunan suci dengan gunung tampak jelas. Di Gunung Penanggungan banyak ditemukan bangunan suci berbentuk teras berundak yang memanfaatkan kemiringan lereng atau gua-gua pertapaan. Bangunan-bangunan suci tersebut berasal dari sekitar abad ke-10 – 11 (Kempers, 1959: 65 – 67). Beberapa bangunan suci di lereng gunung dan Gunung Penanggungan itu sendiri erat kaitannya dengan konsep pelepasan menuju alam kedewaan.

Konsep gunung suci dan pelepasan dalam kaitannya dengan Gunung Tampomas terlihat hanya berhubungan dengan Kerajaan Sunda Pajajaran. Pada masa Kerajaan Tembong Agung -- awal mula Kerajaan Sumedang Larang -- dan masa-masa sesudahnya, tampak bahwa konsep gunung suci mengacu pada gunung atau bukit yang berada dekat dengan pusat kerajaan. Di sebelah utara lokasi bekas Kerajaan Tembong Agung terdapat situs Pasir Limus. Pada situs tersebut terdapat jejak-jejak sisa bangunan berundak dan beberapa makam kuna yang dikeramatkan. Struktur bangunan makam kuna tampak berada pada struktur bangunan berundak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bangunan makam lebih kemudian bila dibandingkan dengan bangunan berundak.

Bangunan berundak yang ada di situs Pasir Limus belum tentu menunjukkan latar religi megalitik dari masa prasejarah. Di tatar Sunda, pada masa klasik akhir antara agama Hindu, Buddha, dan kepercayaan asli leluhur bercampur. Dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karêsian, disebutkan ... ini na lakukeuneun, talatah sang sadu jati hongkara namo sewaya, sêmbah ing hulun di sanghyang pañcatatagata; pañca ngaran ing lima, tata ma ngaran ing sabda, gata ma ngaran ing raga, ya eta ma pahayuon sareanana ... (... inilah yang harus dilakukan, (yaitu) amanat Sang Baikhati (terpercaya) yang sejati. Selamatlah (hendaknya) dengan nama Siwa, menyembahlah hamba kepada Sanghyang Pañcatatagata (Buddha), pañca berarti lima, tata itu artinya sabda, gata itu artinya raga, ya itulah untuk kebaikan semuanya ...). Pada bagian lain terdapat keterangan bahwa ... mangkubumi bakti di ratu, ratu bakti di dewata, dewata bakti di hyang ... (... mangkubumi berbakti kepada ratu, ratu berbakti kepada dewata, dewata berbakti kepada hyang ...). Berdasarkan keterangan tersebut menunjukkan bahwa pada awalnya, keagamaan yang melatari adalah Hindu, Buddha, dan pada akhirnya unsur kepercayaan asli muncul. Kemunculan kepercayaan asli para leluhur terlihat dari keterangan dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karêsian yang menurunkan derajat Dewata berada di bawah Hyang (Sumadio, 1990: 390 -- 392; Ayatrohaédi, 1982: 337 -- 338). Dalam kasus Kerajaan Tembong Agung tampak lebih ditekankan pada konsep pemujaan gunung suci. Pasir Limus merupakan mahameru bagi Kerajaan Tembong Agung.

Quarith Wales mengaitkan konsep Gunung Mahameru dengan pemujaan terhadap Siwa sebagai Girisa, yang memperoleh gelar sebagai penguasa gunung. Hubungan antara tanah (bumi) yang memberi kekuatan (kesuburan) dengan gunung suci adalah jelas. Hal itu disebabkan karena sakti Siwa yaitu Uma Haimawati anak perempuan dari Raja Gunung Himalaya, sebenarnya dipuja juga sebagai Dewi Gunung (Wales, 1953: 88). Pandangan tentang gunung sebagai tempat suci yang mengarah pada pemujaan gunung itu sendiri ada kaitannya dengan ajaran Siwa.

Pemilihan lokasi pusat-pusat Kerajaan Sumedanglarang sesudah masa Tembong Agung, cenderung mengandung unsur pengagungan terhadap gunung. Dengan adanya gunung suci menjadikan lokasi pemukiman masyarakat tersucikan pula. Konsepsi demikian ini sangat umum berlaku pada tatanan pemukiman tradisional. Tiap kebudayaan tradisional akan memperlihatkan suatu tatanan yang keramat, meluas dari tempat hunian (rumah) sampai ke perkampungan hingga seluruh lahan kawasan. Pada pemukiman-pemukiman tradisional, karena agama dan upacara keagamaan adalah sentral maka organisasi tersebut sering didasarkan pada hal-hal yang keramat. Dengan demikian maka memahami perkampungan tradisional menghendaki bahwa perkampungan dianggap sebagai ekspresi-ekspresi fisik ruang keramat (Rapoport, 1985: 28).

Konsepsi tentang ruang keramat dalam kaitannya dengan pemukiman, bila dihubungkan dengan keberadaan Gunung Tampomas akan didapatkan gambaran mengenai pemukiman pada masa klasik akhir di kawasan Sumedang. Di Gunung Tampomas, situs-situs yang menunjukkan bangunan sakral berada pada lereng utara dan timur. Pada bagian lereng tersebut mungkin merupakan lokasi pemukiman.

Di Desa Narimbang yang berada pada kaki Gunung Tampomas sisi timur laut terdapat lokasi yang disebut kabuyutan. Objek berupa tatanan batu terhampar. Di antara tatanan batu terdapat dua batu berdiri menyerupai nisan. Kedua batu berdiri itu beroerientasi utara – selatan. Tatanan hamparan batu berada di bagian utara batu berdiri. Objek batu berdiri dan tatanan hamparan batu itu dikelilingi pagar dari susunan batu berdenah empat persegi panjang. Pada pagar sisi timur terdapat jalan masuk. Pagar keliling ini merupakan hasil buatan masyarakat setempat. Menurut keterangan masyarakat setempat kabuyutan ini merupakan makam Sutawijaya (Hadiwisastra dan Saptono, 2005: 7).

Di desa ini juga terdapat makam keramat yang disebut Makam Sawah Kalapa. Jalan masuk menuju komplek berada di sebelah selatan. Makam tokoh utama berada di dalam bangunan cungkup, terletak di bagian timur laut komplek. Cungkup merupakan bangunan baru semi permanen berlantai ubin. Pintu masuk cungkup berada di sisi barat. Menurut keterangan, tokoh utama yang dimakamkan adalah Embah Secagati. Tokoh ini merupakan cikal bakal masyarakat kampung Narimbang. Di dalam cungkup, selain makam Embah Secagati juga terdapat makam isteri Embah Secagati. Makam Embah Secagati berada di sebelah timur, sedangkan makam isteri Embah Secagati di sebelah barat. Makam Embah Secagati maupun isterinya tidak dilengkapi jirat. Nisan sebagai tanda makam berupa batu panjang yang ditancapkan. Di luar cungkup banyak dijumpai makam baik makam lama maupun baru. Makam-makam tersebut terkonsentrasi di sebelah barat cungkup makam Embah Secagati. Kebanyakan makam tidak dilengkapi jirat, namun ada yang dibatasi dengan susunan batu berdenah empat persegi panjang. Salah satu makam yang berada di sebelah barat cungkup makam utama, susunan batu keliling berpola swastika. Nisan kebanyakan berupa batu panjang yang diberdirikan (Hadiwisastra dan Saptono, 2005: 7–8). Dengan adanya beberapa bangunan suci di Gunung Tampomas dan beberapa objek di Desa Narimbang terdapat gambaran bahwa di kawasan lereng utara hingga timur Gunung Tampomas merupakan lokasi pemukiman yang berlangsung sejak masa klasik akhir hingga masa Islam.


Simpulan
Gunung mempunyai arti penting dalam konsep kepercayaan. Gunung dipandang sebagai objek suci untuk mendapatkan pencerahan. Pada masa klasik akhir di Sumedang, yaitu masa menjelang keruntuhan Kerajaan Sunda Pajajaran. Gunung Tampomas merupakan gunung suci bagi masyarakat setempat. Peristiwa Burak Pajajaran, memberikan gambaran bahwa Gunung Tampomas merupakan gunung suci tempat Prabu Siliwangi menuju alam kedewaan (ngahiang). Beberapa tinggalan arkeologis di Sanghiang Taraje, Puncak Manik, dan beberapa objek di Desa Narimbang menunjukkan bahwa Gunung Tampomas diperlakukan sebagai Gunung Suci.

Keruntuhan Kerajaan Sunda Pajajaran mendorong berdirinya Kerajaan Sumedanglarang. Konsep kepercayaan terhadap gunung suci tetap berlanjut. Historiografi tradisional menyebutkan bahwa Batara Tuntang Buana memperdalam ilmu kasumedangan di Gunung Mandalasakti. Dalam kaitannya dengan pemukiman, terlihat ada hubungan antara konsep gunung suci dengan pemilihan lokasi pemukiman. Beberapa lokasi pusat Kerajaan Sumedanglarang berada pada kawasan perbukitan. Pada masa klasik akhir diperkirakan lokasi pemukiman berada di sekitar lereng utara hingga timur Gunung Tampomas.



Daftar Pustaka

Ayatrohaedi
1982 “Masyarakat Sunda Sebelum Islam”. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi II. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Hlm. 333–346.

Behrend, Timothy Earl
1982 Kraton and Cosmos in Tradisional Java. A Thesis submitted in partial fulfillment of the requirements for the degree of master of arts (history). Madison: University of Wisconsin.

Geldern, Robert von Heine
1982 Konsepsi Tentang Negara & Kedudukan Raja di Asia Tenggara. Terjemahan Deliar Noer. Jakarta: CV. Rajawali.

Hadiwisastra, Agus dan Nanang Saptono
2005 Laporan Hasil Penelitian Arkeologi. Penanggulangan Kasus Kepurbakalaan di Kecamatan Congeang, Sumedang. Bandung: Balai Arkeologi Bandung. (Tidak diterbitkan).

Jubaedah, Edah
2005 Titilar Karuhun: Perubahan Budaya di Sumedang Abad XVI–XVII. Bandung: Paragraf.

Kempers, A.J. Bernet
1959 Ancient Indonesian Art. Cambridge: Masachusets University Press.

Koestoro, Lucas Partanda
1987 “Sanghiang Taraje, Tinggalan Tradisi Megalitik di Gunung Tampomas”. Dalam Berkala Arkeologi VIII (2). Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta. Hlm. 36–46.

Krom, N.J.
1915 Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1914. Batavia: Albrecht & Co.

Lubis, Nina H
2000 “Sumedang”. Dalam Nina H Lubis, et al. Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat. Bandung: Alqaprint. Hlm. 71–90.

Munandar, Agus Aris
2004 “Sebaran Situs Arkeologi di Jawa Bagian Barat: Tinjauan Terhadap Dasar Konsepsi Keagamaan”. Dalam Kresno Yulianto (ed.), Tradisi, Makna, dan Budaya Materi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 102–115.

Pigeaud, Th. G. Th.
1924 De Tantu Panggelaran: Een Oud-Javaansch Proza-geschrift Uitgegeven, Vertald en Toegelicht. Dissertasi. Rijksuniversiteit te Leiden. 's-Gravenhage: Nederlandsche Boeken Steendrukerij vh. H.L. Smits.

Rapoport, Amos
1985 “Tentang Asal-usul Kebudayaan Permukiman”. Dalam Anthony J. Catanese (et all.) Pengantar Sejarah Perencanaan Perkotaan. Bandung: Intermedia. Hlm. 21–44.

Sumadio, Bambang (ed.)
1990 “Jaman Kuna”. Dalam Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wales, H.G. Quaritch
1953 The Mountain Of God: A Study In Early Religion and Kingship. London: Bernard Quaritch, Ltd.

Yondri, Lutfi
1988 Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Penanggulangan Kasus Kepurbakalaan di Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.


*) Nina H Lubis berdasarkan wawancara dengan R. Mumu Abdullah Kartadibrata mendapatkan penjelasan bahwa Ilmu kasumedangan merupakan ilmu yang kelak menjadi falsafah hidup rakyat Sumedang, namun ada juga yang berpendapat bahwa karena sangat sulit untuk dipelajari, maka tidak ada orang yang sanggup mempelajarinya (Lubis, 2000: 72).



Catatan:
Tulisan ini diterbitkan di buku "Arkeologi dari Lapangan ke Permasalahan", hlm. 43 - 54. Editor Edi Sedyawati. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, 2006.



2 Komentar:

Blogger Sanghyang Raksajagat mengatakan...

Memang di Puncak Gunung manapun jika Kita mengolah spritual akan terasa sangat berbeda dibandingkan dengan ketika berada di tengah2 masyarakat.

29 Juni 2015 14.52

 
Blogger Arkeologi Sunda mengatakan...

Terima kasih

13 Juli 2015 21.29

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda