Yang membaca sungguh-sungguh, janganlah hanya dilihat. Dengarkan lalu resapkan petuah lalu ikuti (Sewaka Darma) Bila ingin tahu tentang telaga, bertanyalah kepada angsa. Bila ingin tahu tentang hutan, bertanyalah kepada gajah. Bila ingin tahu tentang laut, bertanyalah kepada ikan. Bila ingin tahu tentang bunga, bertanyalah kepada kumbang (Sanghyang Siksakanda ng Karesian). Bila ingin tahu tentang kehebatan KARUHUN kunjungi terus www.arkeologisunda.blogspot.com

02 Februari, 2009

Masuknya Islam di Indramayu


PANGERAN SELAWE DI INDRAMAYU
KAITANNYA DENGAN PALEMBANG DAN MAJAPAHIT PADA MASA AWAL MASUKNYA ISLAM



Nanang Saptono



PENDAHULUAN
Indramayu merupakan salah satu kota pantai di Jawa Barat yang keadaannya bila dibandingkan dengan masa lalu sudah mengalami kemunduran. Berdasarkan sumber-sumber asing dan cerita rakyat, daerah tersebut sebelumnya bernama Cimanuk karena terdapat di muara sungai Cimanuk. Cimanuk dahulu merupakan salah satu pelabuhan milik kerajaan Sunda. Menurut Barros Kerajaan Sunda mempunyai enam pelabuhan yaitu Chiamo, Xacatra atau Caravam, Tangaram, Cheguide, Pondang, dan Bantam (Djajadiningrat, 1983: 83). Tomé Pires juga memberitakan bahwa Çumda mempunyai enam pelabuhan yaitu Bantam, Pomdam, Cheguide, Tamgaram, Calapa, dan Chemano (Cortesão, 1967: 166). Keterangan antara Barros dan Pires sama-sama menyebutkan adanya enam pelabuhan. Kalau Barros menyebutkannya dari arah timur ke barat, sebaliknya Pires menyebutnya dari barat ke timur. Perbedaan yang ada selain ucapannya ialah bahwa Calapa yang disebut Pires, oleh Barros disebutnya Xacatra atau Caravam.

Tomé Pires juga memberikan gambaran keadaan masing-masing pelabuhan tersebut (Cortesão, 1967: 170-173). Bantam merupakan pelabuhan besar terletak di tepi sungai. Dari pelabuhan ini perdagangan berlangsung hingga Sumatra dan Kepulauan Maladewa. Barang-barang yang diperdagangkan antara lain beras dan lada. Pomdam juga merupakan pelabuhan yang baik. Berada pada muara sungai. Kapal besar (junk) dapat berlabuh di sini. Barang dagangan berupa bahan makanan terutama beras dan lada. Cheguide merupakan pelabuhan bagus yang bisa didarati kapal besar. Pelabuhan ini merupakan pintu gerbang ke Jawa dari Pariaman, Andalas, Tulangbawang, Sekampung dan tempat-tempat lain. Barang-barang dagangan berupa beras, buah-buahan, lada, dan bahan makanan. Tamgaram juga merupakan pelabuhan dan kota dagang yang bagus. Barang dagangan sebagaimana pelabuhan yang lain. Calapa merupakan bandar yang paling bagus. Pelabuhan ini sangat penting dan terbagus di antara yang lain. Jalinan perdagangannya sangat luas yaitu hingga Sumatra, Palembang, Laue, Tamjompura, Malaca, Makasar, Jawa dan Madura, serta beberapa tempat lain. Chemano merupakan pelabuhan yang cukup ramai meskipun kapal besar tidak dapat berlabuh di sini. Di kota ini sudah banyak warga muslim. Perdagangan yang dijalin hingga seluruh Jawa.


Penelitian yang pernah dilakukan di Indramayu diantaranya menjumpai adanya situs komplek makam Pangeran Selawe. Pada komplek makam tersebut tokoh utama yang dimakamkan adalah Pangeran Guru. Tokoh ini menurut cerita rakyat dipercaya sebagai tokoh dari Majapahit yang menjadi adipati di Palembang. Berdasarkan permasalahan tersebut dalam makalah ini akan dikaji mengenai kaitan antara Palembang, Indramayu, dan Majapahit pada masa awal masuknya Islam.



SITUS-SITUS ARKEOLOGI DARI MASA AWAL MASUKNYA ISLAM DI INDRAMAYU
Indramayu (Cimanuk) sebagai kota pelabuhan berkembang pesat pada masa awal masuknya Islam. Ketika itu Cimanuk merupakan daerah kekuasaan kerajaan Sunda. Menurut Babad Dermayu pada tahun 1527, nama Cimanuk diganti dengan Dermayu dan akhirnya berubah menjadi Indramayu. Ketika kerajaan Sunda runtuh, Indramayu berada di bawah kekuasaan Kesultanan Cirebon. Beberapa situs dari masa awal masuknya Islam di Indramayu terdapat di desa Pabean Ilir, Paoman, Bojongsari, dan Dermayu (Saptono, 1996/1997).

Desa Pabean Ilir terletak pada sekitar bekas muara aliran Sungai Cimanuk di Laut Jawa dan merupakan bagian paling utara Kabupaten Indramayu. Pabean merupakan toponim yang menunjukkan bekas pabean. Sisa pemukiman lama sudah jarang ditemukan lagi. Pemukiman yang ada sekarang merupakan pemukiman baru dan terletak di sepanjang bekas aliran Sungai Cimanuk. Di kanan kiri bekas aliran sungai tersebut masih terdapat sisa-sisa tanggul yang sekarang dimanfaatkan untuk jalan desa. Indikator pemukiman lama yang masih ada yaitu komplek “makam” (petilasan) Embah Buyut Datuk Khapi. Situs ini terletak di sebelah timur tanggul sungai. Berdasarkan keterangan, situs tersebut merupakan petilasan padepokan Syech Datuk Khapi dalam rangka menyebarkan Islam di Pabean.*) Islamisasi yang dilakukannya ditujukan kepada para pemukim di Pabean yang merupakan imigran dari daerah Jawa Tengah. Sampai sekarang penduduk Desa Pabean menggunakan Bahasa Jawa. Keadaan objek yang ada sekarang berupa makam yang dilengkapi cungkup. Sekitar objek berupa komplek kuburan umum yang masih dipakai hingga sekarang. Pada sisi selatan komplek kuburan terdapat pagar tembok yang dilengkapi jalan masuk berupa gapura paduraksa. Bangunan pagar beserta gapura merupakan bangunan baru. Kompleks petilasan Syech Datuk Khapi terletak pada bagian paling utara. Petilasan tersebut berpagar tembok yang merupakan bangunan baru. Jalan masuk terdapat di sisi selatan tanpa dilengkapi gapura. Pada pagar sisi timur terdapat sumur kuna. Pada halaman yang berpagar tembok terdapat dua unit bangunan. Bangunan di sebelah timur adalah bangunan utama yang merupakan cungkup petilasan Syech Datuk Khapi. Petilasan Syech Datuk Khapi berupa makam dengan jirat bertingkat tiga. Di sebelah barat cungkup petilasan terdapat bangunan terbuka yang juga merupakan bangunan baru. Menurut keteran¬gan, lokasi bangunan tersebut merupakan bekas tempat balai di mana Syech Datuk Khapi menyampaikan ajaran Islam.


Desa Paoman merupakan toponim dari kata Pa-omah-an yang berarti perumahan. Menurut keterangan, Kampung Paoman meru¬pakan pemukiman yang dihuni para pekerja di Pabean. Dahulu para istri yang suaminya bekerja di Pabean, bermukim di Paoman, bekerja sebagai pembatik. Sampai sekarang tradisi membatik masih berlanjut. Kampung Paoman terletak di sebelah timur Sungai Cimanuk dan merupakan bagian paling utara pusat kota Indramayu. Di tengah-tengah pemukiman terdapat petilasan Padepokan Paoman yaitu bekas lokasi islamisasi bagi pemukim di Kampung Paoman. Pada petilasan tersebut terdapat makam dengan orien¬tasi utara-selatan berjumlah sebelas. Makam-makam tersebut merupakan lambang penyebar Islam di Paoman. Sembilan makam merupakan lambang walisanga, sedangkan dua yang lain merupakan lambang Ki Jaka Geding sebagai pemimpin keamanan, dan Ki Jaka Kendil sebagai pemim¬pin dapur umum.


Desa Bojongsari terletak di sebelah barat sungai Cimanuk. Pada desa tersebut terdapat komplek Stana Bojong Dermayu. Menurut keterangan situs tersebut merupakan petilasan bermukimnya para utusan dari Cirebon ketika mengadakan inspeksi ke Indramayu. Utusan tersebut terdiri dari Sunan Jati Purba, Syech Datuk Khapi, Pangeran Atas Angin, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, dan Sunan Bonang. Keadaan situs berupa kompleks kuburan umum yang hingga sekarang masih berfungsi. Pada kompleks kuburan terdapat kelompok makam yang berpagar tembok terdiri dari dua halaman. Halaman pertama terletak di sebelah selatan dengan pintu masuk di sisi timur tidak dilengkapi gapura. Untuk memasuki halaman kedua, yaitu yang terletak di sebelah utara halaman pertama, terdapat pintu masuk di sisi selatan dengan dilengkapi gapura paduraksa. Halaman ini merupakan bagian inti situs Stana Bojong Dermayu. Pada bagian ini terdapat bangunan cungkup yang di dalamnya terdapat makam sebagai lambang para utusan dari Cirebon. Makam tersebut disusun berderet dari barat ke timur dengan orientasi utara-selatan berjumlah lima. Di sebelah selatan deretan makam pada sebelah barat daya terdapat sebuah makam lagi yang belum diketahui secara jelas sebagai lambang tokoh siapa.


Desa Dermayu terletak di sebelah barat sungai Cimanuk. Situs dari masa awal masuknya Islam terdapat di Blok Tengah. Di daerah ini terdapat masjid kuna yang di belakangnya terdapat komplek makam. Masjid kuna tersebut sekarang sudah dipugar. Keadaan masjid berdenah segi empat pada bagian depan terdapat serambi. Pada ruang utama terdapat saka guru berjumlah empat dengan penampang lintang segi delapan. Bagian kepala tiang terdapat hiasan motif bintang bersudut delapan. Konstruksi bangunan menggunakan teknik pasak. Pada beberapa pasak dihias bentuk padma mula dan nanasan. Bagian atap dilengkapi mustaka berbentuk limas dari bahan terakota. Benda arkeologis yang masih tersimpan berupa mimbar berbentuk tandu yang sekarang sudah tidak dipakai. Mimbar tersebut berhias sulur-suluran. Pada bagian sandaran terdapat ragam hias motif wadasan. Bagian puncak sandaran dihias dengan motif kuncup bunga.Di belakang masjid terdapat komplek makam yang sampai sekarang masih berfungsi. Pada komplek makam tersebut terdapat halaman yang berpagar tembok. Kelompok kuburan berpagar tersebut dinamakan Makam Pangeran Selawe. Untuk memasukinya melalui jalan masuk yang dilengkapi kelir (rana) terdapat di sisi barat. Keadaan yang ada sekarang merupakan hasil pembenahan (pemugaran) yang dilakukan pada bulan Juli tahun 1976. Di situs tersebut terdapat 24 kubur yang terbagi dalam 4 blok.**) Blok I terletak pada bagian barat laut komplek terdiri 4 kubur dengan jirat berundak. Kuburan tokoh utama yaitu Pangeran Guru Wirya Nata Agama, yang dipercaya berasal dari Palembang terletak pada bagian paling utara blok I (kubur nomor 1). Di sebelah selatannya (kubur nomor 2) dipercaya sebagai kuburan Endang Darma Ayu. Blok II terletak di sebelah timur blok I terdiri 8 kubur tanpa jirat (kubur nomor 5 - 12). Blok III terletak di sebelah selatan blok II terdiri 2 kubur yang juga tanpa jirat (kubur nomor 13 - 14). Blok IV terletak di bagian paling selatan komplek terdiri 10 kubur. Kubur nomor 24 dilengkapi jirat berundak. Kubur nomor 23 dilengkapi nisan ganda berhias motif flora dan geometris berupa bintang dengan sudut delapan.



INDRAMAYU MENURUT SUMBER ETNOHISTORI
Menurut Babad Dermayu (Dasuki, 1977), momentum penting sejarah Indramayu yaitu tentang kedatangan Wiralodra. Tokoh ini disebutkan sebagai putra ketiga Tumenggung Gagak Singalodra dari daerah Banyuurip, Bagelen, Jawa Tengah. Kedatangan Wiralodra ke Indramayu disertai Ki Tinggil. Wiralodra ketika datang di tepi sungai Cimanuk memilih lokasi untuk membuka hutan di sebelah barat sungai. Daerah tersebut akhirnya berkembang menjadi perkampungan. Suatu saat Wiralodra kembali ke Bagelen, Ki Tinggil tetap tinggal di Cimanuk. Sepeninggal Wiralodra kemudian datang Endang Darma untuk bermukim di kampung tersebut. Di samping bercocok tanam Endang Darma mengajarkan ilmu kanuragan kepada masyarakat.

Keberadaan Endang Darma di Cimanuk didengar Pangeran Guru di Palembang. Bersama 24 muridnya berangkat ke Cimanuk dengan tujuan untuk menguji kesaktian Endang Darma. Tetapi di Cimanuk keduapuluhempat murid Pangeran Guru beserta Pangeran Guru dapat dikalahkan Endang Darma. Menangapi peristiwa tersebut Ki Tinggil melaporkannya kepada Wiralodra. Dengan disertai beberapa saudaranya, Wiralodra kemudian kembali ke Cimanuk. Setelah sampai, bertemu dengan Endang Darma, Wiralodra menanyakan perihal peristiwa tentang Pangeran Guru. Endang Darma mohon maaf kepada Wiralodra sambil menyatakan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dihindari karena Pangeran Guru terus memaksa. Mendengar jawaban tersebut Wiralodra mengajak untuk menguji kesaktian dengan catatan bila Wiralodra kalah dia menjadi pembantu Endang Darma. Sebaliknya bila Endang Darma kalah, maka ia menjadi istri Wiralodra. Akhirnya Endang Darma dapat dikalahkan. Namun Babad Dermayu tidak memberitakan tentang perkawinan antara Wiralodra dengan Endang Darma. Setelah berhasil mengalahkan Endang Darma, Wiralodra kemudian mengganti nama Cimanuk dengan Dermayu. Penggantian nama ini merupakan permintaan Endang Darma untuk mengenang namanya yang telah turut andil dalam membangun pemukiman di Cimanuk. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1527.


Mengenai tokoh Endang Darma, Babad Dermayu menerangkan bahwa Endang Darma mempunyai nama lain Ratna Gumilang, Ratu Sakti, dan Mas Ratu Gandasari. Purwaka Caruban Nagari menyebutkan bahwa Mas Ratu Gandasari adalah adik Fadlillah Khan, Putra Maulana Mahdlar Ibrahim bin Malik Ibrahim. Dengan demikian Endang Darma adalah cucu Maulana Malik Ibrahim. Sedangkan mengenai Pangeran Guru, Babad Dermayu menerangkan bahwa, dia adalah orang Jawa yang bermukim di Palembang. Pangeran Guru mempunyai nama lain Arya Dilah, putra Wikramawardhana, raja Majapahit yang ditugaskan sebagai gubernur di Palembang.


Mengenai Arya Dilah, Sajarah Banten menceritakan bahwa di Majapahit terdapat wanita jelmaan raksasa yang dijadikan selir oleh raja Majapahit. Ketika wanita tersebut mengandung, makan daging mentah dan kemudian berubah wujud ke bentuk semula. Karena takut ketahuan wanita tersebut melarikan diri dan melahirkan anak diberi nama Ki Dilah. Setelah dewasa Ki Dilah ke Majapahit dan dapat diterima raja. Ki Dilah diberi nama Arya Damar dan kemudian diangkat sebagai wakil raja di Palembang. Babad Tanah Jawi menceritakan bahwa raja Majapahit menghadiahkan kepada Arya Damar salah satu selirnya, seorang putri Cina yang dalam keadaan hamil. Di Palembang putri Cina tersebut melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Raden Patah. Sedangkan dengan Arya Damar juga mempunyai anak laki-laki bernama Raden Husin (Djajadiningrat, 1983: 265 – 266). Cerita tentang asal-usul Raden Patah menurut Babad Demak juga berkaitan dengan Arya Damar. Diceritakan bahwa Arya Damar adalah anak angkat Brawijaya yang ditugaskan sebagai adipati di Palembang. Arya Damar selain diberi jabatan juga diberi putri Cina untuk diperistri. Putri Cina tersebut adalah salah satu selir Brawijaya. Ketika mendapatkan putri Cina dalam keadaan mengandung anak Brawijaya. Di Palembang putri Cina melahirkan anak diberi nama Raden Patah (Suwaji, 1981: 14 – 38).


Dari berbagai sumber yang ada, dapat ditarik hipotesis bahwa Pangeran Guru atau Arya Dilah juga bernama Arya Damar, seorang kerabat dekat (anak atau sepupu) raja Majapahit, yang dipercaya menjadi wakil Majapahit (adipati) di Palembang. Ia juga ayah (angkat) Raden Patah. Baik Sajarah Banten maupun Babad Tanah Jawi tidak menceritakan kematian Arya (Ki) Dilah, hanya Babad Dermayu yang menceritakan kematian Pangeran Guru (Arya Dilah) karena perang melawan Endang Darma.
Masuknya Islam di Indramayu berdasarkan beberapa sumber sejarah setidak-tidaknya dilakukan oleh dua orang tokoh yaitu Syekh Datuk Khapi dan Sunan Gunung Jati. Babad Dermayu menyebutkan bahwa pada tahun 1415 Syekh Datuk Khapi datang di Cirebon untuk menyebarkan Islam (Dasuki, 1977: 50). Menurut Purwaka Caruban Nagari, Syekh Datuk Khapi tidak lain adalah Syekh Nurjati atau Syekh Idhopi, ulama dari Arab. Datang di Jawa pada tahun 1420 menetap di Singapura, yaitu kampung di Pasambangan, Cirebon (Ekadjati, 1975: 88; Sunardjo, 1983: 38). Meskipun Syekh Datuk Khapi memusatkan aktifitasnya di Ceribon, namun islamisasi yang dilakukannya juga mencapai daerah Indramayu khususnya di daerah Pabean (daerah pantai). Pada tahun 1471 Sunan Gunung Jati juga mengislamkan daerah Indramayu yang berpusat di daerah Babadan. Mengenai komunitas muslim di Indramayu Tomé Pires yang datang pada tahun 1513 menyatakan bahwa di Cimanuk banyak orang beragama Islam, tetapi syahbandarnya bukan orang Islam (Dasuki, 1977: 51). Melihat bebrapa angka tahun peristiwa sejarah pada Babad Dermayu, dapat disimpulkan bahwa peristiwa terbunuhnya Pangeran Guru oleh Endang Darma berlangsung pada sebelum tahun 1527. Dengan demikian ketika itu di Indramayu merupakan awal masa Islam.


MAKAM PENGERAN SELAWE DARI ASPEK ARKEOLOGIS
Komplek makam Pangeran Selawe di Indramayu yang terlihat sekarang sudah mengalami beberapa kali pemugaran. Tinggalan arkeologis yang tersisa hanya nisan kubur 23. Kubur ini bernisan ganda. Nisan bagian dalam puncaknya runcing berhias lingkaran. Nisan bagian luar berbentuk dasar empat persegi panjang. Keadaan nisan pernah patah, sekarang sudah disambung dengan bahan semen. Pada bagian puncak berbentuk kurawal. Hiasan sulur sangat dominan. Pada bagian atas terdapat hiasan pola geometris bermotif matahari dengan ujung sinar berjumlah delapan.

Di Indonesia, nisan kubur ditampilkan dalam berbagai bentuk dan ragam hias yang berbeda-beda. Bentuk nisan tersebut biasanya merupakan lanjutan dari masa-masa sebelumnya seperti bentuk phallus, meru, lingga dengan pola hias beraneka ragam (Nurhakim, 1990: 78).
Bentuk-bentuk nisan makam masa Islam di Indonesia, menurut Hasan M. Ambary (1984) berdasarkan pusat persebarannya dapat dibagi dalam empat tipe yaitu Aceh, Demak-Troloyo, Bugis-Makasar, dan lokal. Nisan tipe Aceh didasarkan pada nisan makam Malik-as-Shaleh yang merupakan makam paling tua di daerah tersebut. Nisan tipe ini tidak hanya terdapat di Aceh tetapi tersebar hingga di Sumatra Utara, Sumatra Barat, Semenanjung Malaya, Lampung, serta Banten dan Jakarta. Nisan tipe Demak-Troloyo didasarkan pada bentuk nisan Raden Patah di Demak dan beberapa makam kuna di Troloyo. Bentuk nisan tipe Demak-Troloyo tersebar di Pantai Utara Jawa dan daerah pedalaman, Palembang, Banjarmasin dan Lombok. Nisan tipe Bugis-Makasar didasarkan pada makam raja-raja Goa dan Bone di Tamalate, Soppeng, dan Watang Lamuru. Nisan tipe demikian di luar Sulawesi Selatan dapat dijumpai di Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, dan Bima. Tipe nisan lokal merupakan bentuk nisan yang hanya terdapat di daerah tertentu. Sebagai contoh misalnya nisan yang terdapat di Ternate-Tidore, Jeneponto, dan Barus.


Salah satu nisan di komplek Makam Pangeran Selawe

Berlandaskan pembagian di atas, daerah Indramayu termasuk dalam persebaran nisan tipe Demak-Troloyo. Nisan tipe Demak-Troloyo berdasarkan bentuk dan ragam hiasnya dapat dibagi dalam tiga subtipe (Nurhakim, 1990: 80 – 81).
Subtipe 1, berbentuk dasar segi empat pipih, kepala nisan berundak berbentuk mahkota. Hiasan yang digunakan berupa hiasan tumpal pada bagian badan dan kaki nisan; subtipe 2, berbentuk dasar bulat, kepala nisan lengkung menyatu dengan badan nisan makin ke bawah makin kecil. Hiasan yang digunakan berupa pelipit pada bagian kaki nisan; subtipe 3, berbentuk dasar pipih, kepala nisan berbentuk seperti kurawal menyerupai lengkung-lengkung kala-makara. Hiasan yang digunakan berupa hiasan pilin dan flora pada bagian badan nisan, sedangkan pada bagian bawah nisan terdapat hiasan tumpal yang digayakan. Dengan demikian nisan yang terdapat pada kubur 23 komplek makam Pangeran Selawe merupakan nisan subtipe 3.

Hal menarik lainnya yang terdapat pada nisan tersebut adalah adanya motif hiasan matahari. Mengenai motif hias ini pernah dibahas Suwedi Montana (1985). Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa motif hias tersebut sering dijumpai pada beberapa kepurbakalaan yang berhubungan dengan tokoh penyebar Islam abad XV – XVIII. Nisan tertua yang menggunakan motif hias matahari dijumpai di kelompok makam tujuh, Troloyo, Trowulan. Angka tahun tertua yang terdapat pada nisan kelompok makam tujuh adalah 1298 Saka dan yang termuda tahun 1397 Saka. Selanjutnya para arkeolog menamakan motif hias tersebut Matahari Majapahit atau Surya Majapahit.


Makna motif hias tersebut adalah semacam pengakuan atas regalia Majapahit, mengingat tokoh-tokoh sentral yang berhubungan dengan motif hias tersebut berada dalam satu kurun waktu masa akhir Majapahit. Selain itu juga merupakan lambang supranatural, kesaktian atau merupakan magico religious dari tokoh sentral atau pun para kerabatnya.



AKHIR PEMBAHASAN
Persoalan mengenai Pangeran Guru sebagai tokoh sentral Pangeran Selawe dalam kaitannya dengan Palembang dan Majapahit ternyata memerlukan pencermatan. Menurut kepercayaan lokal, Pangeran Guru adalah Arya Dilah, atau Arya Damar yang merupakan kerabat anak raja Majapahit. Persoalannya sekarang raja Majapahit siapa yang dimaksud. Menurut Babad Dermayu adalah Wikramawardhana. Berdasarkan beberapa sumber sejarah Wikramawardhana merupakan pengganti Hayam Wuruk yang memerintah pada tahun 1389 hingga 1400. Sedangkan menurut Babad Demak raja dimaksud adalah Brawijaya yang memerintah pada tahun 1468 hingga 1478 (Sumadio, 1990: 440 – 450). Bila angka tahun ini dikaitkan dengan peristiwa terbunuhnya Pangeran Guru oleh Endang Darma yang menurut Babad Dermayu terjadi pada tahun 1527 maka raja Majapahit yang dimaksud kemungkinan besar adalah Brawijaya. Seandainya Pangeran Guru atau Arya Dilah lahir ketika Brawijaya bertahta, maka pada saat terjadi peristiwa peperangan dengan Endang Darma berumur antara 49 hingga 59 tahun.

Tahun peristiwa tersebut berada pada kurun waktu awal masa Islam di mana Majapahit mulai mengalami masa kemunduran. Beberapa situs yang ada di Indramayu banyak yang menunjukkan berasal dari masa awal Islam misalnya makam Syekh Datuk Khapi di Pabean Ilir, situs Paoman, dan situs Stana Bojong Dermayu.
Mencermati situasi seperti ini, wajar bila Tome Pires menerangkan bahwa di Indramayu sudah banyak masyarakat muslim tetapi syahbandarnya masih kafir. Karena pengaruh penguasa sebelum Islam masih belum lepas dari penguasa sebelumnya.

Mengenai keberadaan komplek makam Pangeran Selawe juga terdapat persoalan. Babad Dermayu menyebutkan bahwa Pangeran Guru beserta pengikutnya yang berjumlah 24 semuanya mati terbunuh oleh Endang Darma. Namun pada komplek makam Pangeran Selawe, kubur nomor 2 dipercaya sebagai makam Endang Darma. Mengenai hal ini mungkin sudah menjadi suatu khasanah tersendiri bagi Indramayu. Di situs Pabean Ilir terdapat makam Syekh Datuk Khapi. Sementara itu di Stana Bojong Dermayu, desa Bojongsari juga terdapat makam Syekh datuk Khapi. Selain itu di Desa Paoman dapat dijumpai makam para walisanga. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komplek makam Pangeran Selawe sebenarnya bukan makam dalam arti kuburan tetapi merupakan makam dalam arti petilasan. Dengan demikian kekalahan Pangeran Guru beserta pengikutnya bukan berarti kematian secara fisik. Dalam sumber yang lain pun tidak diceritakan di mana Pangeran Guru atau Arya Dilah atau Arya Damar meninggal.


Persoalan antara Indramayu dengan Palembang semakin terang. Pangeran Guru yang juga bernama Arya Dilah atau Arya Damar adalah putra raja Brawijaya, juga merupakan wakil raja Majapahit di Palembang. Kaitannya dengan Indramayu berkenaan dengan masalah politik ketika itu, yaitu tidak berkenan bila Indramayu berkembang sebagai kekuatan politik yang menjadi saingan Majapahit pada masa awal Islam. Keterkaitan ini ditunjukkan pada satu-satunya nisan yang terdapat di komplek makam Pangeran Selawe yang menunjukkan adanya motif hias Surya Majapahit. Motif ini merupakan lambang regalia Majaphit. Dengan demikian antara Babad Dermayu dengan bukti arkeologis yang terdapat di komplek makam tersebut terdapat kesesuaian.




Kepustakaan

Abdurachman, Paramita R (ed.) 1982. Cerbon, Jakarta: Yayasan Mitra Budaya Indonesia, Penerbit Sinar Harapan

Ambary, Hasan Muarif. 1984. L’art Funéraire Musulman en Indonésie des Origines aux XIX ème Siècle. Disertasi. Paris: EHESS.


Cortesão, Armando. 1967. The Suma Oriental of Tomé Pires. Nendelnd iechtenstein: Kraus Reprin Limited.


Dasuki. 1977. Sejarah Indramayu. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Indramayu


Djajadiningrat, Hoesein. 1983. Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten. Jakarta: Penerbit Djambatan, KITLV.


Ekadjati, Edi S. 1975. “Penyebaran Agama Islam di Jawa Barat”. Dalam Atja, Sejarah Jawa Barat dari Masa Prasejarah Hingga Masa Penyebaran Agama Islam. Bandung: Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat.


Montana, Suwedi. 1985. “Mode Hiasan Matahari pada Pemakaman Islam Kuno di Beberapa Tempat di Jawa dan Madura”. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi III, Ciloto 23 – 28 Mei 1983. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Nurhakim, Lukman. 1990. “Tinjauan Tipologi Nisan Pada Makam Islam Kuno di Indonesia”, dalam Proceedings Analisis Hasil Penelitian Arkeologi I, Plawangan 26-31 Desember 1987. Buku II, Religi Dalam Kaitannya Dengan Kematian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.


Saptono, Nanang. 1996/1997. “Permukiman Masa Islam di Indramayu”. Dalam Laporan Penelitian: Arkeologi Masa Islam di Lampung dan Jawa Barat. Bandung: Balai Arkeologi Bandung.


Sumadio, Bambang. 1990. “Jaman Kuna” Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Sunardjo, Unang. 1983. Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809. Bandung: Tarsito.


Suwaji (terj.) 1981. Babad Demak. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.



Keterangan:

*) Penyebutan nama Datuk Khapi sudah mengalami kerancuan. Dalam beberapa sumber sejarah tokoh tersebut bernama Datuk Kahfi (periksa Abdurachman, 1982: 85; Sunardjo, 1983: 38; Dasuki, 1977: 50). Mengingat pada komplek petilasan terdapat tulisan Datuk Khapi maka penamaan sementara menggunkan penyebutan tersebut.

**) 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 Pemberian nomor Blok dan nomor kubur pada komplek makam Pangeran Selawe hanya untuk memudahkan dalam pendeskripsian.



Catatan:

Tulisan ini diterbitkan di buku "Tapak-tapak Budaya", hlm. 54 - 65. Editor Dr. Endang Sri Hardiati. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat - Banten, 2002.

Label:

4 Komentar:

Blogger Anniesha mengatakan...

assalamualaikum
aku tertarik dg artikelnya, tapi sebenarnya saya mencari profil datuk moh.. yang di kuburkan di desa terusan... terimakasih untuk infonya tlg jwb via email. sukron wasalam

9 Februari 2011 23.46

 
Blogger A2Z mengatakan...

Halahh.., sebenernya masih banyak peninggalan kuno yg belum ditemuin disitu, hanya saja pemerintah ga mau tahu dan para arkeolog ga serius mencarinya...!! Tepi pantai tuh diteliti, jangan di pedesaan! Kalo orang sini mah banyak yg tau..., tp sayang ga ngerti dan ga mau ngerawat!
Saya ASLI orang "Pabean Ilir"!

20 Mei 2013 12.34

 
Blogger Arkeologi Sunda mengatakan...

Waalaikumsalam,

Terimakasih Anniesha, mohon maaf kami belum mendapatkan data tentang makam di Desa Terusan.

Terimakasih pula kepada Aaz, hingga sekarang kami baru mendapatkan data di Pabean Ilir adalah makam Syekh Datuk Khapi dan beberapa benda yang tersimpan di Balai Desa Pasekan.

22 Mei 2013 08.27

 
Blogger almunawar affandi mengatakan...

di mana makam selawe itu mas

1 Februari 2015 20.15

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda