Yang membaca sungguh-sungguh, janganlah hanya dilihat. Dengarkan lalu resapkan petuah lalu ikuti (Sewaka Darma) Bila ingin tahu tentang telaga, bertanyalah kepada angsa. Bila ingin tahu tentang hutan, bertanyalah kepada gajah. Bila ingin tahu tentang laut, bertanyalah kepada ikan. Bila ingin tahu tentang bunga, bertanyalah kepada kumbang (Sanghyang Siksakanda ng Karesian). Bila ingin tahu tentang kehebatan KARUHUN kunjungi terus www.arkeologisunda.blogspot.com

08 Februari, 2009

Dari Tradisi, Makna, dan Budaya Materi


VARIASI BENTUK GANESHA
DAN PERKEMBANGAN RELIGI DI JAWA BAGIAN BARAT


Endang Widyastuti




Pendahuluan

Dalam mitologi Hindu banyak dikenal adanya dewa-dewa. Salah satu dewa dalam mitologi Hindu yang cukup terkenal adalah Ganesha. Ganesha adalah anak Dewa Siwa dengan Parwati. Ganesha mempunyai beberapa nama lain, di antaranya adalah Lambodara, Ekadanta, Vignesvara, dan Gajanana. Ganesha disebut Lambodara yang berarti perut buncit atau gendut. Ganesha juga disebut Ekadanta yang berarti bertaring satu. Vignesvara berarti dewa yang menguasai rintangan. Gajanana berarti yang bermuka gajah.

Ganesha pada umumnya digambarkan dengan ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri umum Ganesha adalah sebagai berikut. Ganesha digambarkan berkepala gajah dengan belalai, badan manusia, sedangkan kaki berbentuk kaki manusia tetapi sangat tambun. Secara khusus, Ganesha mempunyai tanda-tanda ikonografik yaitu badan gemuk, perut buncit, mata ketiga, taring patah sebelah, benda-benda tertentu yang dipegang di tangannya, upavita ular, tengkorak, dan bulan sabit atau salah satu dari yang dua itu sebagai hiasan mahkota serta asana yang berupa deretan tengkorak. Sebagai tanda khusus ini ditambahkan pula tangan berjumlah empat. Akan tetapi, tanda khusus ini lebih merupakan tanda dari arca dewa pada umumnya daripada tanda Ganesha pada khususnya. Tanda-tanda ikonografik khusus yang disebutkan itu tidak selalu terdapat pada arca Ganesha (Sedyawati, 1994: 65).

Menurut Endang Sri Hardiati (1982) dengan mengacu pada Rao, ada beberapa macam penggambaran Ganesha yang masing-masing mempunyai laksana yang berlainan. Beberapa di antaranya membawa buah-buahan seperti mangga, nangka, pisang, jambu, dan batang tebu. Selain itu, ada pula yang membawa jerat (pasa), pengait (ankusa), dan lain-lain. Ganesa yang bertangan 16 antara lain membawa busur dan panah, pedang dan perisai, gada, semacam tombak (sula), kapak (parasu), bendera (dhvaja).

Ganesha yang dijumpai di Indonesia pada umumnya bertangan empat, dengan laksana berupa taring (danta) pada tangan kanan depan, mangkuk tengkorak (kapala) pada tangan kiri depan, kapak dan tasbih (aksamala) pada kedua tangan belakang. Parasu dan aksamala letaknya tidak selalu tetap, dapat saling bertukar pada tangan kanan atau kiri belakang (Soekatno, 1982: 228).

Tugas utama Ganesha menurut mitologi Hindu adalah sebagai penyingkir semua rintangan bagi orang-orang yang berbuat baik. Dengan tugas demikian, orang menempatkan arca Ganesha tidak hanya di bangunan suci, tetapi juga di tempat-tempat penting lain, seperti perempatan jalan dan di bawah pohon. Ganesha juga dianggap sebagai dewa kebijaksanaan.

Ganesha yang ditemukan di Jawa bagian barat terdapat beberapa variasi dalam penggambarannya. Adanya beberapa variasi penggambaran Ganesha ini kemungkinan berhubungan dengan latar belakang religi. Oleh karena itu, makalah ini akan menguraikan beberapa variasi bentuk Ganesha yang berasal dari beberapa situs di Jawa bagian barat. Dalam pokok bahasannya akan dicari hubungan antara perkembangan religi dan penggambaran bentuk.


Arca Ganesha yang Ditemukan di Jawa Barat

Di Jawa bagian barat berdasarkan penelitian tercatat adanya arca Ganesha yang berasal dari beberapa situs. Arca-arca Ganesha yang akan dibahas dalam makalah ini berasal dari Pejambon (Cirebon), Desa Patala (Kuningan), Karangkamulyan (Ciamis), Bukit Tunggul (Bandung), Jampang Tengah (Sukabumi), dan Gunung Raksa (Pulau Panaitan).

Pejambon (Cirebon)
Arca Ganesha yang terdapat di Desa Pejambon, Kecamatan Cirebon Selatan, Kabupaten Cirebon, sekarang berada di sebuah bangunan permanen (cungkup) yang dibangun oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang. Arca ini tidak diketahui asalnya.

Arca Ganesha di Pejambon terbuat dari sebongkah batu monolit. Arca digambarkan sebagai manusia berkepala gajah tanpa kaki. Tangan berjumlah dua buah terlipat di depan dada. Tangan kanan memegang gada, sedangkan tangan kiri memegang gading. Muka digambarkan dengan mulut lebar, belalai menjuntai sampai menyentuh tangan kanan. Pada bagian punggung digoreskan sebuah gambar cambuk (chamara) dan kuncup bunga teratai (utpala). Beberapa bagian arca ini telah dicat oleh penduduk. Bahan batuan andesitik, kondisi utuh, tinggi arca 75 cm, bentuk perut rata.

Arca Ganesha yang terdapat di Pejambon ini digambarkan dengan lengkap, tetapi dibuat dengan sederhana dan penggambaran secara statis. Bagian-bagian tubuh seperti tangan dan kaki dibuat menempel pada tubuhnya. Dengan kata lain hanya berupa batas goresan-goresan saja. Demikian juga penggambaran atribut atau kelengkapannya (Widyastuti, 2002: 81).



Arca Ganesha dari Pejambon, Cirebon


Patala (Kuningan)
Sekarang arca ini berada di gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Gedung tersebut berada di Kampung Wage, Kalurahan Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Menurut Bapak Rusman, juru pelihara situs Cipari, arca yang terdapat di tempat ini merupakan temuan tahun 1971 oleh tim survei benda-benda sejarah dan purbakala Kuningan yang dipimpin oleh Pangeran Djatikusuma. Arca Ganesha di gedung Paseban Tri Panca Tunggal berasal dari Desa Patala, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan.



Arca Ganesha dari Desa Patala Kuningan


Arca digambarkan sebagai manusia berkepala gajah dengan posisi duduk bersandar. Tinggi arca secara keseluruhan 48,5 cm. Bagian atas kepala arca telah terpotong. Pada bagian kepala ini terdapat mahkota. Muka sudah tidak jelas lagi bagian-bagiannya karena aus. Belalai di bagian dada telah hilang, tetapi di bagian perut terdapat potongan belalai sampai menyentuh tangan kiri. Telinga arca yang sebelah kanan telah aus, sedangkan telinga sebelah kiri terlihat panjang dan memakai anting yang menjuntai sampai ke dada. Di samping kiri kepala arca agak ke belakang terdapat pahatan membentuk bunga teratai. Tangan berjumlah empat, dua tangan yang di depan diletakkan di atas paha. Kedua tangan ini terpotong sebatas pergelangan tangan. Pada bagian lengan terdapat gelang lengan (kelat bahu). Kedua tangan yang lain berada di samping badan. Tangan kanan memegang tasbih (aksamala), sedangkan tangan kiri memegang suatu benda yang tidak jelas. Sikap duduk utkutikasana yaitu kaki terlipat dengan kedua telapak kaki saling bertemu. Arca Ganesha ini digambarkan dengan dengan atribut lengkap dan dengan penggambaran secara plastis, meskipun dengan kondisi yang sudah sangat aus (Widyastuti, 2003: 77).

Karangkamulyan (Ciamis)
Arca yang berasal dari situs Karangkamulyan sekarang disimpan di Museum Sri Baduga Bandung. Arca digambarkan duduk di atas lapik berbentuk bulat dengan sikap duduk ardhaparyankasana yaitu sikap duduk dengan posisi satu kaki bersila dan kaki yang lain dilipat ke atas. Pada bagian atas kepala arca terdapat semacam tutup kepala. Belalai menjuntai ke kiri. Perut digambarkan buncit. Di bagian dada terdapat upavita berupa tali polos.Tangan berjumlah empat, dua tangan yang belakang patah, sedangkan dua tangan yang lain masing-masing memegang lutut. Tinggi arca 46 cm. Arca Ganesha yang berasal dari Karangkamulyan ini mempunyai bentuk sederhana, tetapi dengan penggambaran secara plastis.

Arca Ganesha dari Karangkamulyan

Bukit Tunggul (Bandung)
Arca ini sekarang disimpan di Museum Sri Baduga Bandung. Arca digambarkan dengan bentuk yang sangat sederhana dengan tinggi 37 cm. Kepala arca digambarkan dengan kesan kaku, telinga menyudut mengarah bentuk persegi. Mata berupa dua buah cekungan berbentuk bulat. Belalai menjuntai ke arah kiri sampai menyentuh tangan kiri. Belalai berbentuk pipih menempel pada perutnya yang buncit. Tangan berjumlah dua buah dengan atribut tangan kanan berupa tasbih (aksamala), sedangkan tangan kiri berada di lutut. Sikap duduk utkutikasana yaitu kaki terlipat dengan kedua telapak kaki saling bertemu. Bentuk kaki sangat kaku (bersudut). Penggambaran arca Ganesha ini secara statis dan berkesan belum selesai dibuat.



Arca Ganesha dari Bukit Tunggul

Jampang Tengah (Sukabumi)
Arca yang berasal dari Jampang Tengah Sukabumi sekarang disimpan di Museum Sri Baduga Bandung. Arca digambarkan sebagai manusia berkepala gajah dengan posisi duduk di atas lapik dan bersandar pada stela. Tinggi arca secara keseluruhan 56 cm. Di atas kepala terdapat mahkota. Pada bagian muka arca terdapat dua buah mata. Belalai menjuntai ke arah kiri dengan ujung berada dalam bejana di tangan kiri. Tangan berjumlah empat buah masing-masing memegang atribut. Atribut tangan kanan belakang berupa kapak, kiri belakang berupa siput, tangan kanan depan berada di lutut dan tangan kiri depan memegang bejana. Sikap duduk utkutikasana. Arca Ganesha ini dilengkapi dengan upavita, kelat bahu, gelang dan ikat kepala. Arca ini mempunyai atribut lengkap dan digambarkan secara plastis.


Arca Ganesha dari Jampang Tengah


Gunung Raksa (Pulau Panaitan)
Arca Ganesha yang ditemukan di Pulau Panaitan ini terbuat dari batuan andesitik dengan ciri-ciri sebagai berikut: bagian atas kepala tanpa mahkota tetapi memakai untaian manik-manik. Sandaran arca berbentuk lingga dengan lapik yang diberi hiasan berbentuk segitiga simetrik sejajar. Tangan berjumlah empat buah masing-masing memegang atribut yang berbeda. Tangan kanan depan memegang gada atau patahan taring, tangan kanan belakang memegang tasbih, tangan kiri depan memegang mengkuk berbentuk tengkorak kepala dengan belalai masuk ke dalam mangkuk, dan tangan kiri belakang tidak memegang apapun dengan sikap abhayamudra. Arca ini dilengkapi dengan upavita berbentuk pita yang disampirkan di bahu kiri menyilang ke arah pinggul kanan (Michrob, 1992: 20--21). Arca ini digambarkan secara plastis.



Arca Ganesha dari Gunung Raksa (Sumber: Halwany Michrob, 1992)


Religi Masa Hindu-Buddha di Jawa Bagian Barat
Pada masa lalu di Jawa bagian barat diketahui adanya pusat pemerintahan Kerajaan Sunda. Kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Sunda di antaranya dapat diketahui melalui telaah terhadap naskah. Uraian di dalam naskah-naskah tersebut menyangkut beberapa aspek kehidupan masa lalu, di antaranya religi.

Naskah yang berasal dari masa Kerajaan Sunda antara lain adalah Carita Parahyangan, Sawakadarma, dan Sanghyang Siksakanda ng Karêsian. Dalam naskah Carita Parahyangan diceritakan bahwa Sanghyang Darmasiksa dika¬takan sebagai titisan Batara Wisnu. Dalam naskah ini disebutkan pula bahwa Sañjaya yang beragama Hindu, memberi nasihat kepada anaknya yang bernama Rahyang Tampêran atau Rakeyan Panaraban, agar tidak mengikuti agama yang dipeluknya. Dengan demikian dapat diketahui bahwa setelah Sañjaya, agama Hindu tidak lagi berkembang. Selain naskah Carita Parahyangan, keadaan religi juga terlihat pada naskah Sawakadarma. Naskah yang berasal dari tahun 1435 M disebut pula sebagai Serat DewaBuddha. Dalam naskah tersebut disebutkan pula nama-nama dewa agama Hindu seperti Brahma, Wisnu, Maheswara, Yama, dan Baruna. Selain itu, dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karêsian, pengaruh agama Hindu masih terlihat. Namun demikian, juga tampak adanya pengaruh agama Buddha, yaitu pemujaan kepada Sanghyang Pañcatatagata (Buddha). Pada bagian lain dari naskah Sanghyang Siksakanda ng Karêsian terlihat percampuran dengan kepercayaan terhadap leluhur. Hal ini dibuktikan dengan menurunkan derajat Dewata berada di bawah Hyang (Danasasmita, 1987: 96).

Selain naskah, sumber sejarah lain yang juga dapat digunakan untuk melihat religi yang berkembang adalah prasasti. Dalam Prasasti Sanghyang Tapak ter¬lihat adanya pengaruh agama Hindu. Prasasti Sanghyang Tapak (952 Ś/1030 M) menyebutkan tentang nama tokoh Maharaja Sri Jayabhupati Jayamahen Wisnumurtti Samarawijaya Sakalabhuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottungadewa yang berkuasa di Prahajyan Sunda (Djafar, 1991: 20--24). Dari nama gelar tersebut terlihat bahwa raja adalah penganut agama Hindu aliran Waisnawa (Sumadio, 1990: 362). Pengaruh agama Hindu juga terlihat dari adanya pemujaan terhadap telapak kaki dan penyebutan dewa-dewa dalam agama Hindu seperti Yama, Baruna, Kuwera, dan Nandiswara.

Berdasarkan berbagai keterangan tersebut menunjukkan bahwa pada awalnya, keagamaan yang melatari Kerajaan Sunda adalah Hindu. Dalam perkembangannya agama Hindu bercampur dengan agama Buddha, dan pada akhirnya unsur kepercayaan asli muncul (Sumadio, 1990: 392). Kemunculan kepercayaan asli dari para leluhur terlihat dari keterangan dalam naskah Sanghyang Siksakanda ng Karêsian yang menurunkan derajat Dewata berada di bawah Hyang (Sumadio, 1990: 392; Ayatrohaédi, 1982: 337 -- 338).


Pembahasan
Dari beberapa arca Ganesha yang berasal dari wilayah Jawa bagian barat menunjukkan dua gaya, yaitu secara plastis dan statis. Penggambaran secara plastis sebagaimana pengarcaan Ganesha pada umumnya yang ditemukan di Indonesia, sedangkan penggambaran secara statis dengan corak dan gaya yang kaku. Bagian-bagian tubuh dari arca tersebut digambarkan secara sederhana. Atribut pada arca sering tidak lengkap, atribut kuat hanya berupa adanya belalai.

Penggambaran arca dengan gaya yang kaku dan statis juga dapat ditemukan pada arca-arca yang berasal dari masa Majapahit akhir. Pada masa itu arca dan relief yang ditampilkan digambarkan dengan kaku dan statis tanpa ekspresi, dan tidak naturalistis. Mengenai hal ini Hariani Santiko (1989) dengan merujuk pada Dr. N.J. Krom dan Dr. W.F. Stuterheim menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena muncul kembalinya unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli, yang dilatari oleh pemujaan kepada arwah nenek moyang (Santiko, 1989: 310 --311). Pendapat tersebut didukung oleh H.G. Quaritch Wales dan Ir. Van Romondt yang membandingkan ciri-ciri struktural pada bangunan berundak di lereng Gunung Penanggungan dengan punden berundak masa prasejarah. Ciri-ciri tersebut kemudian dihubungkan dengan adanya persamaan pada alam fikiran yang melatarinya yaitu pemujaan kepada arwah nenek moyang. Pemujaan arwah nenek moyang ini muncul kembali setelah pengaruh Hindu mulai melemah (Santiko, 1989: 310 --311).

Di Jawa bagian barat, mengenai arca-arca dengan penggambaran yang statis tersebut pernah dibahas oleh J.F.G. Brumund dan N.J. Krom. Arca-arca ini sering disebut dengan arca tipe Polinesia. Brumund menyebut arca tipe polinesia yang menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha dengan istilah arca tipe Pajajaran. Sedangkan arca yang tidak menunjukkan ciri-ciri Hindu-Buddha tidak diberikan istilah tersendiri (Mulia, 1980). Sementara itu, Krom menyatakan bahwa setiap arca yang tidak mempunyai ciri-ciri sebagai arca Hindu-Buddha yang menonjol adalah arca Polinesia dan berfungsi sebagai arca pemujaan leluhur. Menurut Krom arca Polinesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
  1. arca yang berasal dari masa sebelum zaman klasik,
  2. yang dilanjutkan sesudah mulai pengaruh Hindu-Buddha dan tetap berfungsi; terdapat di daerah terpencil, dan
  3. yang sudah terpengaruh oleh kebudayaan Hindu-Buddha tetapi disesuaikan dengan konsepsi baru (Mulia, 1980).

Berdasarkan pendapat Brumund dan Krom dapat ditarik hipotesis bahwa di daerah Jawa Barat terdapat beberapa tipe arca, yaitu arca yang berasal dari masa sebelum klasik dan awal masa klasik yang digunakan oleh masyarakat terpencil. Arca semacam ini biasa disebut dengan arca tipe polinesia atau arca megalitik. Tipe arca yang kedua adalah yang telah mendapat pengaruh Hindu-Buddha tetapi telah mengalami percampuran dengan kepercayaan asli. Arca sejenis ini biasa disebut dengan arca tipe pajajaran. Di samping kedua tipe arca tersebut terdapat pula arca yang mengandung ciri sebagai panteon Hindu atau Buddha.

Arca Ganesha dengan penggambaran secara plastis sebagaimana yang ditemukan di Desa Patala, Karangkamulyan dan Gunung Raksa menunjukkan kuatnya ciri-ciri Hindu. Selain itu arca Ganesha yang berasal dari Pejambon dan Bukit Tunggul termasuk dalam kelompok yang digambarkan oleh Brumund dan Krom sebagai arca yang telah mendapat pengaruh Hindu-Buddha tetapi telah mengalami percampuran dengan kepercayaan asli. Penggambaran arca Ganesha ini sesuai dengan kondisi religi di Jawa bagian barat pada masa Kerajaan Sunda.


Simpulan
Arca Ganesha yang ditemukan di Jawa bagian barat terdiri dari dua kelompok yaitu dengan penggambaran secara plastis dan secara statis. Arca Ganesha yang digambarkan secara statis oleh Brumund dan Krom disebut sebagai arca tipe Pajajaran. Penggambaran arca tersebut dipengaruhi oleh perkembangan religi yang terjadi di daerah ini pada masa Kerajaan Sunda. Berdasarkan sumber sejarah diketahui bahwa religi yang berkembang pada masa Kerajaan Sunda telah bercampur dengan kepercayaan asli. Hal itu terlihat dengan diturunkannya derajat dewata di bawah hyang. Demikian juga dalam penggambaran arca dewa dibuat dengan sederhana.



Daftar Pustaka

Ayatrohaédi. 1982. “Masyarakat Sunda Sebelum Islam”. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi II. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeol¬ogi Nasional. Hlm. 333 – 346.

Danasasmita, Saleh. 1987. Sewaka Darma, Sanghyang Siksakanda ng Karêsian, Amanat Galunggung. Transkripsi dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda (Sundanologi).

Djafar, Hasan. 1991. “Prasasti-prasasti dari Masa Kerajaan-Kerajaan Sunda”. Makalah pada Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran. Bogor 11 – 13 November 1991.

Michrob, Halwany. 1992. Arca Ganesha dari Panaitan Hasil Penelitian Arkeologi di Taman Nasional Ujung Kulon. Serang: Penerbit Saudara.

Mulia, Rumbi. 1980. “Beberapa Catatan Tentang Arca-arca Yang Disebut Arca Tipe Polinesia”. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi, Cibulan 21-25 Februari 1977. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional. Hlm. 599 – 646.

Santiko, Hariani. 1989. “Bangunan Berundak Teras Masa Majapahit: Benarkah Pengaruh Punden Berundak Prasejarah?. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi V. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 304 – 318.

Sedyawati, Edi. 1994. Pengarcaan Ganeça Masa Kadiri dan Singasari, Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Soekatno, Endang Sh. 1982. “Arca Ganesha dari Banyubiru, Jawa Tengah”. Dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi II. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeol¬ogi Nasional. Hlm. 227 – 240.

Sumadio, Bambang. 1990. “Zaman Kuna”. Dalam Sejarah Nasional Indonesia II. Jakar¬ta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, PN Balai Pustaka.

Widyastuti, Endang. 2002. “Arca-Arca Tipe Pajajaran di Pejambon, Cirebon”. Dalam Jelajah Masa Lalu. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah Jawa Barat – Banten. Hlm. 75 -- 85.

----------. 2003. “Penelitian Arca-arca di Kuningan dalam Rangka Pengungkapan Perkembangan Religi”. Dalam Mosaik Arkeologi. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Hlm. 71 – 84.


Catatan:
Tulisan ini terbit di buku “Tradisi, Makna, dan Budaya Materi”, hlm. 28 – 39. Editor Kresno Yulianto. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2004.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda